Darah Rakyat di Indonesia Terlarang, namun di Malaysia Diagungkan

 Dimasa Orde Baru berkuasa, kita sering mendengar banyaknya pelarangan buku-buku, terutama buku-buku yang ditulis oleh para sastrawan dari Lekra seperti Pramoedya Ananta Toer. Semua yang dianggap “berbau” kiri dilarang, padahal buku-buku tersebut bukanlah sebuah hasutan untuk melakukan tindakan makar. Hanya saja lahir dari mereka yang dianggap berseberangan dalam pandangan politis.

Ternyata tidak hanya itu, pertunjukkan rakyat dan lagu-lagu menjadi kabar-kabar sunyi yang terkubur rapat. Walaupun tidak ada larangan terhadap lagu tersebut secara langsung, tapi banyak yang sungkan untuk menyanyikannya. Karena akan langsung dicap sebagai PKI dan antek-anteknya, hingga mampu mencekik nafas hidup untuk sekian turunan. Sungguh menakutkan efeknya.

Lagu seperti Genjer-genjer yang menggambarkan susahnya hidup rakyat di jaman Jepang jelas menjadi salah satu korbannya. Padahal lagu ini jelas-jelas tak menyiratkan sebuah hasutan. Selain itu juga dilarang lagu berjudul Ganyang Rasialisme.

Imbas yang tak mengenakkan juga dialami oleh Gesang dengan lagunya berjudul Tembok Besar (1963). Seperti lagu Bengawan Solo yang lahir di tahun 1940 saat Gesang menemukan sungai Bengawan Solo di mana di musim kemarau surut dan di musim hujan meluap-luap. Begitu pula ia terkesan dengan keberadaan Tembok Besar China yang seperti ular naga panjanganya di pegunungan. Insipirasi ini hadir saat ia berkunjung ke China pada tahun 1963 bersama misi kesenian dari Indonesia sekaligus berkunjung ke Korea Utara. Berikut ini liriknya :

Download Mp3 Lagu Keroncong-Gesang – Tembok Besar

Nun jauh di sana tembok besar yang ada

Di masa dulunya sebagai benteng raksasa

Menghalau musuhnya yang akan masuk kota

Gagah dan perkasa membela pada negerinya

Meskipun bagaimana saja besar korban yang diderita

Tak akan menyerah sampai kapan saja

Nun jauh laksana ular naga merayap

Di atas puncaknya gunung-gunung yang perkasa

Nun jauh di sana tembok besar yang ada

Di masa dulunya sebagai benteng raksasa

Penghalau musuhnya yang akan masuk kota

Gagah dan perkasa membela pada negerinya

Meskipun bagaimana saja, besar korban yang diderita

Tak akan menyerah sampai kapan saja

Nun jauh laksana ular naga merayap

Di atas puncaknya gunung-gunung yang perkasa

Gesang bersama seorang penyanyi keroncong wanita menyanyikannya dengan indah. Keindahannya tak jauh beda dengan lagu Bengawan Solo. Hanya kali ini musik keroncong menjadi menyatu dengan musik china. Menjadi satu seperti juga hubungan Peking dan Jakarta saat itu. Mungkin karena hal inilah, maka pemerintahan Soeharto mencoba melenyapkan lagu itu. Padahal lagu Gesang yang berjudul Pohon Beringin menjadi lagu resmi Golkar, ini membuktikan bahwa Gesang bukan musuh politik Soeharto atau bagian dari kekuatan politik PKI saat itu.

Berikutnya adalah sebuah lagu yang merupakan lagu perjuangan yang terkenal di masa revolusi. Lagu ini banyak dinyanyikan oleh anak-anak di sekolah atau di sawah begitu pula dengan pemuda yang akan berangkat perang ke medan pertempuran. Lagu ini berjudul Darah Rakyat.

Ketika masa Revolusi 1945, lagu Darah Rakyat telah berumur 10 tahun dan terdengar di mana-mana sebagai penyemangat dikalangan pejuang kemerdekaan. Dan sebulan setelah proklamasi, 19 September 1945, lagu ini dinyanyikan dalam “demonstrasi” di Lapangan Ikada (kini Lapangan Monas, Jakarta). Dan terakhir lagu Darah Rakyat terdengar di Indonesia sebelum Sukarno digulingkan oleh Soeharto.

Pencipta lagu ini jarang disebutkan. Tapi ada yang mengatakan, penciptanya adalah Legiman Hardjono/Legiono a.k.a Ismail Bakri (Sekjend ACOMMA 1 & wasekjend Angkatan Muda Kereta Api – 1947), yang pada jaman revolusi dikenal sebagai Pemuda Buruh Kereta Api dan banyak mengambil peran dalam perjuangan. Berikut ini lirik lagu Darah Rakyat :

Darah rakyat masih berjalan, menderita sakit dan miskin

Pada datangnya pembalasan, rakyat yang menjadi hakim

Rakyat yang menjadi hakim.

Ayo, ayo bergerak sekarang, Kemerdekaan telah datang

Merah warna panji kita, Merah warna darah rakyat, Merah warna darah rakyat

Kita bersumpah pada rakyat, kemiskinan pasti hilang

Kaum pekerja akan memerintah, dunia baru pasti datang

Dunia baru pasti datang

Ayo, ayo, bergerak sekarang, Kemerdekaan telah datang,

Merah warna panji kita, Merah warna darah rakyat, Merah warna darah rakyat.

Lagu yang penuh dengan gelora perjuangan dan menjadi saksi sejarah masa revolusi dulu pada setiap upacara, pada setiap pertemuan, pada setiap pertempuran hidup dan mati, telah lenyap oleh tangan kejam Soeharto. Lagu yang menjadi sebuah pembakar semangat massa yang berkumpul di Lapangan Ikada. Lagu yang juga mengecutkan nyali para tentara Jepang yang berjaga-jaga saat itu, hingga selesainya pidato berapi-api yang di sampaikan Bung Karno semua tentara Jepang tak berani bertindak macam-macam.

Sementara lagu Darah Rakyat menjadi sia-sia begitu saja kini, bagi tokoh tua Malasyia, Majib Salleh, lagu ini dikenang sebagai lagu yang selalu dinyanyikan semasa perbarisan dan perhimpunan Angkatan Pemuda Insaf (API) dan Parti Kebangsaan Melayu Malaya (PKMM) untuk menaikkan semangat pemuda pada zaman kebangkitan gerakan kemerdekaan rakyat Malaya selepas perang dunia kedua (1945-1948). Lagu ini banyak mempengaruhi pemikiran rakyat malaysia. Berikut ini video Darah Rakyat oleh Majib Salleh :

Darah yang berceceran tentu menjadi begitu sangat menakutkan, namun harus pula disadari, bahwa lagu itu lahir di jaman pergerakan dimana masa pertempuran yang tidak memelihara para penakut dan pecundang. Sehingga slogan hidup atau mati demi ibu pertiwi (negara) menjadi sebuah nafas yang ditarik dan dihembuskan dalam dirinya.

Kreasi sastra dan seni di jaman itu tentunya mencerminkan situasi dan kondisi yang obyektif di masa itu seperti ungkapan : rakyat, hidup atau mati, revolusi, darah, merah, feodal, kapiltalis, merdeka dan lain sebagainya.

Perjuangan dan pengorbanan sering diibaratkan dengan merah dan darah. Dan hal yang sama dengan sebuah keinginan untuk melanjutkan cita-cita para founding fathers. Sebuah kelangsungan perjuangan dan benang merah yang tentunya kita inginkan untuk terus menerus berjalan. Namun akhirnya terhenti setelah diturunkannya Bung Karno, bersama terhentinya revolusi yang seharusnya belum selesai. Karena kita harus terus menerus melakukan perubahan yang berkelanjutan.

Setiap rejim tentu mempunyai kepentingan tersendiri pada sejarah. Dan entah kapan lagu yang penuh semangat ini menjadi sebuah kenyataan yang harus disampaikan untuk menjadi penyemangat rakyat. Bila lagu ini menghibur rakyat kebanyakan, tentunya mampu pula menghibur para pejabat yang akan dibangga sebagai penyelamat nasioanlisme.

Sumber : Kompasiana 

About kampoetoloe

Penghuni Kampo Tolo ( Radio Permai )..Sebuah Komplek Perkampungan Baru yang Terletak depan Puskesmas Asakota Bima, Biasa dipanggil Mun Marley, Seorang Mahasiswa STKIP Bima Angkatan 2008 Prodi Sosiologi A

Posted on 8 Desember 2011, in Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: